12. Persembahan Sesaji untuk Roh Leluhur
Sesaji ini adalah bentuk persembahan kepada roh leluhur yang diyakini menjaga keseimbangan dan keselamatan Telaga Sarangan. Masyarakat percaya bahwa penghormatan ini menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Sesaji tersebut disusun dengan berbagai macam lauk pauk, seperti :
1. Ujung tumpeng nasi putih berbentuk kerucut merupakan simbol permohonan dan harapan yang mengarah ke atas, kepada Tuhan dan leluhur.
2. Kepala Ayam Panggang merupakan simbol dari kesucian, dipilihnya bagian kepala merupakan bentuk penghormatan Masyarakat terhadap roh leluhur.
3. Sambal Goreng Kentang, Srundeng, Mie Goreng, Kering Tempe Serta Kerupuk dan Peyek merupakan wujud Syukur Masyarakat terhadap roh leluhur yang telah memberi berkat dan keselamatan.
13. Mendoakan Kepala Kambing Kendhit
Ini merupakan tahapan selanjutnya dalam rangkaian upacara Larung Sesaji di Telaga Sarangan, tepatnya prosesi “Mendoakan Kepala Kambing Kendhit” sebelum ditanam di tengah Punden Telaga Pasir, sebuah lokasi keramat yang dipercaya menjadi pusat energi spiritual dan penjaga keseimbangan alam oleh masyarakat setempat. Kepala kambing hitam yang telah dikurbankan merupakan simbol pengorbanan dan pembersihan diri, yang ditujukan kepada para leluhur dan penjaga gaib telaga. Doa-doa yang dilantunkan oleh sang sesepuh tidak hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai permohonan restu, keselamatan, dan kesejahteraan untuk masyarakat sekitar. Tradisi ini diyakini mampu menyeimbangkan hubungan antara manusia, alam, dan roh-roh penjaga.
14. Menanam Kepala Kambing Kendhit di Tengah Punden Telaga Pasir
Pada prosesi merupakan tahapan selanjutnya dalam rangkaian upacara Larung Sesaji di Telaga Sarangan, tepatnya prosesi “Menanam Kepala Kambing Kendhit di Tengah Punden Telaga Pasir” yang dilakukan oleh sesepuh Telaga Sarangan.Kepala kambing Kendhit yang sebelumnya telah didoakan, kini ditanam sebagai persembahan dalam ritual. Proses ini menyimbolkan penyatuan antara alam, manusia, dan arwah leluhur. Menanam kepala kambing bukan sekadar tindakan simbolik ini adalah bentuk pengikatan janji antara masyarakat dan penjaga gaib telaga, sebagai permohonan agar telaga tetap lestari, hasil bumi melimpah, dan masyarakat hidup tenteram serta terhindar dari marabahaya.
15. Mendoakan Kaki Kambing Kendhit Untuk Ditanam di Empat Penjuru Desa
Pada bagian ini merupakan tahapan selanjutnya dalam ritual Larung Sesaji yang menjadi syarat penting berlangsungnya ritual. Empat kaki kambing ini akan ditanam di empat titik sakral penjuru desa yakni Desa Mandoran, Desa Ngluweng Atas, Desa Ngluweng Bawah dan Desa Dadi. Keempat titik tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai titik lokasi pagar desa yang mengelilingi kelurahan Sarangan.
16. Penanaman Kaki Kambing Kendhit di Empat Penjuru
Penanaman kaki kambing ini adalah langkah lanjutan dari tahapan doa sebelumnya. Ritual ini bukan sekadar pemakaman benda, melainkan perlambangan penjagaan alam atau masyakarakat sekitar menyebutnya dengan “pageran deso”. Penanaman kaki kambing kendhit ini dipercaya oleh masyarakat Telaga Sarangan sebagaii penjaga yang mengelilingi kelurahan Sarangan, agar terhindar dari marabahaya.
17. Ambengan Masyarakat Telaga Sarangan
Ambengan merupakan simbol dari rasa syukur masyarakat kepada alam dan leluhur. Dalam budaya Jawa, makanan bukan hanya untuk mengisi perut, tapi juga sebagai sarana spiritual untuk menyampaikan doa dan harapan. Makanan yang dibawa oleh warga dimasak dari dapur sendiri, dibawa ke tempat sakral, adalah bentuk partisipasi masyarakat untuk melestarikan adat yang sudah dibangun sejak lama.
Ambengan yang dibawa oleh para warga Masyarakat berisikan nasi putih yang dibentuk menyerupai tumpeng, dan dikelilingi oleh lauk pauk seperti ayam panggang utuh, sambal goreng kentang, perkedel, kering tempe, mie goreng, srundeng hingga kerupuk dan peyek. Ambengan tersebut nantinya akan dinikmati secara bersamaan seusainya pelepasan sesaji yang ditenggelamkan.
18. Arak-Arakan Tumpeng Agung
Pada foto tersebut tampak barisan paling depan yakni para pemuka adat dan pejabat desa (mulai dari kiri : Ketua Panitia Larung Sesaji, Bapak Lurah dan Ibu Lurah Kelurahan Sarangan serta perwakilan dari masyarakat yang di wakilkan oleh ketua Rukun Warga (RW) setempat.
Di belakang mereka tampak warga dari berbagai kalangan—ada perwakilan dari masing-masing Rukun Warga (RW) yang turut serta dalam barisan ini. Kehadiran mereka adalah wujud guyub rukun, memperlihatkan bahwa ritual ini hidup karena partisipasi bersama, bukan hanya tanggung jawab tokoh adat.
19. Arak-Arakan Tumpeng Agung Menuju Punden Telaga Pasir
Dari kelurahan Sarangan menuju Punden Telaga Pasir yang menjadi pusat acara, tumpeng agung dibawa dalam iringan warga. Terdapat dua gunungan besar yang dibuat dari nasi putih, ketan, dan tepung kanji pembuatan dengan bahan dasar tersebut bertujuan agar tumpeng yang diarak tidak mudah hancur dan hasil bumi yakni sayuran dan buah. Tumpeng yang terbuat dari nasi putih dinamakan “Ghono Bahu”, sedangkan sayur dan buah dinamakan “Hulu Wektu”.
20. Arak-Arakan Tumpeng Bersama Pelajar SMAN 1 Magetan
Keterlibatan siswa SMA Negeri 1 Magetan bukan hanya bentuk partisipasi, tapi simbol pelestarian budaya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai adat dan kearifan lokal tidak berhenti di generasi tua—tetapi terus mengalir ke generasi masa depan. Dengan mengintegrasikan pelajar dalam upacara adat, masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya akademik, tapi juga menyatu dengan nilai budaya, spiritualitas, dan identitas lokal. Ini adalah wujud nyata dari pendidikan karakter berbasis budaya.
21. Tampi Saserahan
Dalam foto ini, kita menyaksikan momen penuh khidmat yang disebut Tampi Saserahan merupakan prosesi simbolik dimana Ketua Panitia Larung Sesaji menyerahkan tumpeng dan sesaji secara resmi kepada Sesepuh Telaga Sarangan. Prosesi ini menandai transisi tanggung jawab dari pelaksana acara kepada penjaga tradisi. Ketua panitia menyerahkan secara simbolis tumpeng dan perlengkapan sesaji kepada sesepuh sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan penjaga nilai adat.
22. Arak-Arakan Tumpeng mengelilingi Telaga Sarangan
Mengelilingi telaga dengan membawa tumpeng adalah simbol penghormatan dan permohonan doa restu terhadap alam dan para leluhur penjaga telaga. Gerakan memutari danau merupakan bentuk doa yang menyeluruh, agar keselamatan, kelimpahan, dan keseimbangan senantiasa menyertai masyarakat dan lingkungan.